LOMBOK BARAT, PERSBIRU.COM – Dua tahun tanpa sekolah, Zahira Al-Zahra sempat harus mengubur sementara cita-citanya. Alih-alih duduk di bangku kelas, siswi asal Batu Layar, Lombok Barat, itu membantu orang tuanya bekerja di perkebunan sawit di Kalimantan.

Kini, kesempatan yang sempat hilang itu kembali terbuka melalui Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 18 Lombok Barat.

Bagi Zahira, kembali mengenakan seragam sekolah bukan sekadar melanjutkan pendidikan. Kesempatan tersebut menjadi jalan untuk mengejar masa depan tanpa menambah beban ekonomi keluarga.

Saat ditemui di lingkungan sekolah, Senin (19/10/2026), Zahira mengungkapkan kebahagiaannya bisa kembali belajar melalui program Sekolah Rakyat yang menjadi bagian dari kebijakan Presiden Prabowo Subianto.

“Kesan saya selama berada di Sekolah Rakyat sangat menyenangkan dan luar biasa. Saya bisa kembali bersekolah berkat adanya Sekolah Rakyat ini,” ujar Zahira.

Kesempatan itu bahkan membawanya menemukan potensi yang sebelumnya belum berkembang. Meski belum genap setahun mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat, Zahira telah menorehkan prestasi di bidang pencak silat dan atletik. Ia juga berhasil lolos ke tingkat nasional dalam cabang pencak silat.

Pengalaman lain yang membekas adalah ketika ia mengikuti kegiatan paduan suara dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta pada Agustus 2026. Perjalanan tersebut menjadi pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di ibu kota.

“Saya sangat senang karena itu merupakan pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di Jakarta. Saya sangat bersyukur bisa bersekolah di Sekolah Rakyat karena semua fasilitas disediakan secara gratis sehingga tidak membebani keluarga,” tuturnya.

Kisah Zahira bukan satu-satunya. Di sekolah yang sama, Indah Parwati, siswi asal Narmada, juga kembali menemukan semangat belajar setelah menghadapi kesulitan ekonomi.

Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Indah bersekolah di SMPN 1 Narmada. Namun, keterbatasan biaya membuat keluarganya kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan. Kondisi tersebut turut memengaruhi semangat belajarnya hingga ia kerap tidak masuk sekolah.

Melalui Sekolah Rakyat, Indah memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Ia memang harus mengulang pembelajaran dari kelas VII, tetapi hal itu tidak mengurangi kebahagiaannya karena bisa kembali mengenyam pendidikan.

“Meskipun harus mengulang kelas, saya tetap merasa sangat senang karena bisa melanjutkan pendidikan tanpa menambah beban orang tua,” kata Indah.

Terpenuhinya kebutuhan sekolah membuat Indah memiliki ruang lebih besar untuk berfokus pada pembelajaran. Ia berharap kesempatan tersebut menjadi awal untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Harapan serupa dirasakan Tania, siswi asal Narmada yang sempat putus sekolah selama satu tahun akibat keterbatasan biaya.

Setelah bergabung dengan Sekolah Rakyat, ia tidak hanya kembali belajar, tetapi juga berkesempatan mengikuti berbagai kegiatan untuk mengembangkan bakat, termasuk lomba tari dan paskibra.

Kini, Tania memiliki cita-cita menjadi anggota TNI Angkatan Laut. “Saya merasa senang karena selama bersekolah di sini, saya bisa mengikuti berbagai perlombaan dan mengembangkan bakat saya,” ujarnya.

Pengalaman Zahira, Indah, dan Tania memperlihatkan bahwa persoalan ekonomi dapat memengaruhi keberlanjutan pendidikan anak.

Ketika biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari sulit dipenuhi, anak berisiko kehilangan kesempatan belajar, mengembangkan keterampilan, bahkan merencanakan masa depannya.

Di sinilah Sekolah Rakyat berupaya menghadirkan akses pendidikan sekaligus dukungan terhadap kebutuhan dasar peserta didik.

Melalui sistem berasrama, anak-anak mendapatkan lingkungan belajar yang dirancang untuk mendukung perkembangan akademik, pembentukan karakter, dan kemandirian.

Kepala SRMP 18 Lombok Barat, Satria Irwandi, mengatakan pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik.

Pembiasaan disiplin, penguatan karakter, dan pembangunan kepercayaan diri juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan.

“Yang kami bangun di Sekolah Rakyat bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga karakter anak. Mereka dibiasakan hidup disiplin sejak bangun pagi hingga kembali beristirahat. Kami ingin mereka memiliki kepercayaan diri, berani bermimpi, dan yakin bahwa mereka mampu mengubah masa depan keluarganya,” ungkap Satria.

Menurutnya, berbagai kebutuhan peserta didik, mulai dari tempat tinggal, makanan, pakaian, perlengkapan belajar hingga fasilitas penunjang lainnya, dipenuhi melalui program tersebut.

Dengan dukungan itu, anak-anak diharapkan dapat mengikuti pembelajaran tanpa terbebani biaya kebutuhan dasar yang harus ditanggung keluarga.

Satria mengaku melihat perubahan pada peserta didik sejak program berjalan, terutama dalam hal kedisiplinan, motivasi belajar, dan keberanian menyampaikan cita-cita.

Anak-anak yang sebelumnya kurang percaya diri mulai menunjukkan semangat untuk belajar dan mengembangkan kemampuan mereka.

“Harapan kami sederhana, jangan sampai kemiskinan diwariskan kepada anak-anak. Melalui pendidikan yang berkualitas dan pembinaan karakter, kami ingin mereka memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” katanya.

Juru Bicara Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB), Ahsanul Khalik, menegaskan bahwa perluasan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin merupakan bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia di daerah.

Menurutnya, pendidikan yang bermutu dan berkelanjutan menjadi salah satu fondasi peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Pendidikan juga membuka peluang bagi generasi muda untuk meningkatkan kemampuan, memperluas pilihan hidup, dan keluar dari kerentanan sosial ekonomi.

Kehadiran Sekolah Rakyat, lanjutnya, menunjukkan pentingnya peran negara dalam memastikan keterbatasan ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang bagi anak untuk memperoleh pendidikan dan mengembangkan potensi diri.

Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan berkelanjutan. Sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat diperlukan agar kesempatan bersekolah benar-benar berujung pada peningkatan kompetensi, penyelesaian pendidikan, serta kemampuan generasi muda untuk berkontribusi bagi keluarga dan masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari berapa banyak anak yang kembali masuk kelas.

Lebih dari itu, keberhasilan harus terlihat dari kesempatan mereka menyelesaikan pendidikan, menemukan potensi, dan memiliki bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Zahira yang kembali mengejar pendidikan, Indah yang menemukan lagi semangat belajar, dan Tania yang berani bercita-cita menjadi prajurit TNI Angkatan Laut menjadi gambaran tentang arti kesempatan tersebut.

Sekolah Rakyat memberi mereka ruang untuk memulai kembali. Sebab, keterbatasan ekonomi keluarga tidak seharusnya menjadi batas bagi masa depan seorang anak.

Dengan akses pendidikan yang memadai, pembinaan karakter, dan dukungan yang berkelanjutan, harapan untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan dapat semakin terbuka.

Pendidikan bukan hanya tentang kembali bersekolah, melainkan tentang memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk menentukan masa depannya sendiri.(PB03)