MATARAM, PERSBIRU.COM – Persaingan dalam pemilihan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Nusa Tenggara Barat (NTB) telah berakhir.
Namun, pekerjaan besar justru menanti setelah kepemimpinan baru terbentuk: menyatukan kembali seluruh elemen olahraga dan memastikan persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII 2028 tidak tersendat oleh dinamika internal organisasi.
H. Mohan Roliskana terpilih sebagai Ketua Umum KONI NTB periode 2026–2030 setelah memperoleh 45 suara, mengungguli petahana Mori Hanafi yang meraih 29 suara.
Sementara itu, dua pemilik suara menyatakan abstain dari total 76 suara dalam Musyawarah Olahraga Provinsi Luar Biasa (Musorprovlub) KONI NTB 2026.
Hasil tersebut menjadi awal bagi kepemimpinan baru KONI NTB untuk melanjutkan agenda pembinaan olahraga daerah sekaligus memperkuat persiapan NTB bersama Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai tuan rumah PON XXII 2028.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa soliditas dan kebersamaan seluruh insan olahraga harus menjadi prioritas setelah proses pemilihan selesai.
Menurutnya, perbedaan pilihan dalam organisasi merupakan bagian dari dinamika yang wajar, tetapi tidak boleh mengalahkan kepentingan yang lebih besar.
Pesan itu disampaikan Gubernur Iqbal saat membuka Musorprovlub KONI NTB 2026, di Hotel Lombok Raya, Mataram, Selasa (13/10/2026).
Ia mengingatkan bahwa agenda PON 2028 membutuhkan persiapan matang, koordinasi lintas sektor, serta pembinaan atlet yang berkelanjutan.
“Kita tidak punya waktu lagi untuk menunda-nunda. Kita harus segera mempersiapkan diri, segera fokus ke penyelenggaraan PON 2028. Apa yang kita lakukan hari ini adalah komitmen kecil yang akan menumbuhkan nanti kesuksesan PON 2028,” tegas Gubernur Iqbal.
Bagi Gubernur Iqbal, Musorprovlub bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, musyawarah tersebut menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi organisasi agar seluruh potensi olahraga NTB dapat diarahkan pada tujuan bersama.
Ia menilai kesempatan menjadi tuan rumah PON merupakan momentum bersejarah yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Keberhasilan penyelenggaraan tidak cukup hanya diukur dari kesiapan arena pertandingan, fasilitas pendukung, dan kelancaran pelaksanaan. Prestasi atlet daerah juga menjadi bagian penting dari keberhasilan tersebut.
Karena itu, pembenahan organisasi dan peningkatan prestasi harus berjalan beriringan. KONI NTB dituntut mampu membangun koordinasi yang kuat dengan cabang olahraga, pemerintah daerah, serta berbagai pihak yang terlibat dalam persiapan PON.
Gubernur Iqbal juga mengingatkan agar perbedaan yang muncul selama proses pemilihan tidak terbawa menjadi persoalan berkepanjangan.
Setelah ketua umum terpilih, seluruh elemen olahraga diharapkan kembali bekerja bersama dan memberikan dukungan terhadap program organisasi.
Untuk menggambarkan pentingnya kepentingan bersama, Gubernur Iqbal mengangkat kisah Putri Mandalika yang lekat dengan nilai pengorbanan demi kebaikan bersama.
“Kesuksesan satu orang adalah kesuksesan yang lainnya. Kesuksesan satu orang adalah kesuksesan kita bersama-sama,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kepemimpinan KONI tidak hanya berkaitan dengan siapa yang terpilih, tetapi juga bagaimana pemimpin mampu merangkul berbagai pihak dan membangun kerja kolektif.
Proses pemilihan Ketua Umum KONI NTB berlangsung dinamis, terutama ketika peserta membahas mekanisme pemungutan suara.
Kubu Mori Hanafi menghendaki sistem tertutup, sedangkan kubu Mohan Roliskana mengusulkan sistem terbuka.
Dalam pemungutan suara untuk menentukan mekanisme tersebut, 43 suara memilih sistem terbuka dan 30 suara menghendaki sistem tertutup. Hasil itu menetapkan bahwa pemilihan ketua umum dilakukan secara terbuka.
Setelah proses pemungutan suara berlangsung, pimpinan sidang Musorprovlub, Hj. Baiq Isvie Rupaeda, membacakan hasil yang menetapkan Mohan sebagai ketua umum terpilih untuk periode 2026–2030.
“Dengan hasil ini, Saudara Dr. H. Mohan Roliskana terpilih sebagai Ketua KONI NTB dengan perolehan 45 suara,” kata Baiq Isvie.
Mohan, yang juga menjabat Wali Kota Mataram, menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Ia mengakui bahwa dinamika selama musyawarah cukup menyita waktu. Namun, ia menegaskan bahwa upaya memajukan olahraga NTB tidak dapat dilakukan seorang diri.
“Saya butuh bantuan dari banyak pihak untuk membangun olahraga di NTB. Terima kasih kepada Pak Mori Hanafi, sahabat saya, atas wejangan-nya,” kata Mohan saat menyampaikan visi dan misi.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya dukungan lintas pihak dalam menjalankan roda organisasi. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan mandat hasil musyawarah menjadi program kerja yang terukur, terutama dalam pembinaan atlet dan persiapan menghadapi kompetisi nasional.
Wakil Ketua Umum II KONI Pusat, Mayjen TNI (Purn) Soedarmo, turut mengapresiasi kerja pengurus KONI NTB periode 2022–2026 di bawah kepemimpinan Mori Hanafi.
Ia secara khusus menyoroti koordinasi yang telah dibangun dengan KONI Pusat dalam rangka persiapan PON 2028.
Ia berharap Musorprovlub menghasilkan kepemimpinan yang memperoleh kepercayaan dari masyarakat olahraga dan mampu menjaga kesinambungan program yang telah berjalan.
Sementara itu, Caretaker Ketua KONI NTB, Josef Adreanus Nae Soi, mengajak seluruh peserta menjaga persatuan serta marwah daerah.
Menurutnya, perbedaan pendapat perlu disikapi secara dewasa dengan tetap menghormati pilihan masing-masing dan menjaga hubungan baik antarpengurus olahraga.
Dengan berakhirnya Musorprovlub, kepemimpinan Mohan Roliskana kini menghadapi agenda besar untuk menyatukan berbagai kepentingan dalam satu arah kerja.
Konsolidasi organisasi, koordinasi dengan cabang olahraga, pembinaan atlet, serta kesinambungan persiapan PON menjadi pekerjaan yang tidak dapat ditunda.
Gubernur Iqbal kembali menegaskan bahwa semangat kebersamaan harus menjadi landasan seluruh insan olahraga NTB setelah proses pemilihan berakhir.
Ia berharap kepemimpinan baru KONI NTB mampu merangkul seluruh elemen olahraga dan memastikan persiapan penyelenggaraan berjalan seiring dengan peningkatan prestasi atlet.
“Di tengah perbedaan-perbedaan itu, satu yang mempertemukan kita adalah semangat untuk menyukseskan PON 2028. Dan semangat untuk menunjukkan bahwa NTB pantas bersama NTT menjadi tuan rumah PON 2028,” ungkapnya.
Kini, tantangan bagi KONI NTB bukan lagi soal persaingan dalam musyawarah, melainkan bagaimana mengubah hasil pemilihan menjadi kerja nyata.
Sebab, keberhasilan PON 2028 tidak hanya akan menjadi catatan bagi pengurus olahraga, tetapi juga menjadi kesempatan bagi NTB dan NTT untuk menunjukkan kesiapan daerah serta kemampuan atlet bersaing di panggung nasional.(PB03)






