JAKARTA, PERSBIRU.COM – Kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih baik masih menjadi tantangan bagi jutaan anak Indonesia.

Di tengah beragamnya program beasiswa yang tersedia, persoalan akses informasi, pendanaan, dan kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan dunia kerja mendorong perlunya kolaborasi yang lebih terarah.

Berangkat dari tantangan tersebut, Forum Beasiswa Indonesia melalui Asosiasi Jaringan Beasiswa Indonesia (AJBI) menggelar Global Scholarship Summit (GSS) 2026 untuk memperkuat ekosistem pengembangan talenta nasional.

Forum bertema Co-Creating Indonesia’s Future Talent Ecosystem ini berlangsung di SMESCO Nareswara Hall, SME Tower, Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Mengusung aspirasi kolektif “Sejuta Kesempatan Beasiswa untuk Talenta Indonesia”, GSS 2026 mempertemukan pemangku kepentingan dari pemerintah, dunia usaha, filantropi, perguruan tinggi, dan mitra internasional.

Pertemuan ini diarahkan untuk membangun kerja sama yang lebih erat agar kesempatan pendidikan dan pengembangan kompetensi dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

Bagi AJBI, penguatan ekosistem beasiswa tidak cukup dilakukan dengan memperbanyak program bantuan pendidikan.

Diperlukan pula keterhubungan antarlembaga, pemerataan akses informasi, serta jalur pengembangan talenta yang berkesinambungan, mulai dari pendidikan dasar hingga memasuki dunia kerja.

Ketua Dewan Kehormatan AJBI, Prof. Fasli Jalal, menekankan bahwa beasiswa perlu dipahami dalam perspektif yang lebih luas.

Menurutnya, pengembangan talenta tidak semata-mata berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga mencakup pembelajaran nonakademik dan pengembangan kompetensi sepanjang hayat.

“Hari ini kita berkumpul untuk sama-sama merefleksikan bahwa beasiswa perlu dimaknai secara holistik, lifelong learning atau belajar sepanjang hayat tidak hanya berbicara akademis, namun juga pembelajaran nonakademis,” ujarnya.

Pandangan tersebut menempatkan beasiswa sebagai salah satu instrumen untuk memperluas kesempatan belajar, meningkatkan kapasitas individu, dan mempersiapkan talenta menghadapi perubahan kebutuhan masyarakat maupun dunia kerja.

Dalam konteks itu, AJBI berperan sebagai ecosystem convener, yakni penghubung berbagai pihak yang memiliki sumber daya, program, dan kepentingan dalam pengembangan talenta Indonesia.

Peran ini diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi, memperluas kemitraan, serta mendorong lahirnya program beasiswa yang lebih tepat sasaran.

AJBI juga menyambut inisiatif pengembangan portal SatuBeasiswa oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) sebagai upaya memperkuat akses masyarakat terhadap informasi beasiswa.

Wakil Menteri Diktisaintek, Prof. Stella Christie, menjelaskan bahwa SatuBeasiswa dirancang untuk memudahkan pemberi beasiswa mempublikasikan programnya sekaligus membantu masyarakat menemukan peluang yang tersedia melalui satu portal.

“SatuBeasiswa kami hadirkan dengan cara sederhana: pemberi beasiswa dapat dengan mudah menaruh beasiswanya, dan pencari beasiswa dapat dengan mudah menemukannya dalam satu portal.

Melalui SatuBeasiswa, kami ingin memperlihatkan secara transparan kepada masyarakat bahwa kesempatan itu ada. Jangan sampai putus harapan,” katanya.

Kehadiran portal tersebut menjadi salah satu upaya memperluas keterjangkauan informasi beasiswa. Sementara itu, kolaborasi AJBI dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat saling melengkapi inisiatif yang sudah berjalan, tanpa mengasumsikan adanya integrasi sistem atau kerja sama formal yang belum disepakati.

Urgensi memperluas kesempatan pendidikan juga tercermin dalam data yang dipaparkan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Ir. Suharti, MA, Ph.D.

Ia menyampaikan bahwa hingga 2025 terdapat 2.922.607 anak berusia 7–18 tahun yang tidak bersekolah. Jumlah tersebut terdiri atas 145.235 anak berusia 7–12 tahun, 769.453 anak berusia 13–15 tahun, dan 2.007.918 anak berusia 16–18 tahun.

Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan pendidikan tidak berhenti pada ketersediaan program beasiswa.

Upaya memperluas akses juga perlu mempertimbangkan kondisi anak dan keluarga, keberlanjutan pendidikan, serta hambatan yang membuat sebagian anak tidak dapat bersekolah.

Di sisi lain, keberagaman program beasiswa di Indonesia belum sepenuhnya diikuti keterhubungan informasi, data, pembiayaan, akses penerima manfaat, dan jalur pengembangan talenta. Karena itu, penguatan ekosistem menjadi penting agar berbagai inisiatif yang tersebar dapat saling melengkapi.

Selain pemerataan akses pendidikan, keterkaitan antara program beasiswa dan kebutuhan tenaga kerja menjadi perhatian dalam GSS 2026.

Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Keterampilan Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Dr. Jimmy Gani, MPA, menegaskan pentingnya keterlibatan dunia usaha dalam membangun ekosistem pengembangan talenta.

Menurutnya, pemerintah, sektor industri, dan lembaga pendidikan perlu memetakan kebutuhan tenaga kerja secara lebih terarah, termasuk kebutuhan industri di daerah.

Pemetaan itu diperlukan untuk memastikan pendidikan akademik maupun vokasi menghasilkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan lapangan kerja.

Pengembangan talenta tersebut mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari program sarjana (S1) hingga pendidikan vokasi diploma tiga (D3) dan diploma empat (D4).

“Kita harus membangun satu ekosistem, bukan hanya mempertemukan pemberi kerja dengan pencari kerja, supaya apa yang dipelajari benar-benar sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja,” ujarnya.

Pendekatan ini menegaskan bahwa keberhasilan program beasiswa tidak hanya diukur dari jumlah penerima bantuan.

Kesesuaian kompetensi, kesiapan memasuki dunia kerja, dan keberlanjutan pengembangan kapasitas juga menjadi aspek penting dalam membangun talenta yang berdaya saing.

Sebelum penyelenggaraan GSS 2026, AJBI telah menggelar dua lokakarya untuk merumuskan persoalan bersama, menentukan fokus penguatan ekosistem, dan menyusun agenda percontohan kolaborasi atau pilot.

Panitia GSS 2026
Para panitia pose bersama usai kegiatan Global Scholarship Summit (GSS) 2026.

Lokakarya pertama, The Growth Lab: Designing Indonesia’s Scholarship Future, berlangsung pada 29 Agustus 2026 dan melibatkan 25 lembaga pengelola beasiswa serta mitra ekosistem. Pertemuan tersebut mengidentifikasi enam fokus utama, yaitu kebijakan, rancangan ekosistem, kolaborasi, inklusivitas, platform data, dan pendanaan.

Selanjutnya, lokakarya kedua pada 28 September 2026 menghasilkan dua prioritas percontohan.

Pertama, penyusunan Grand Design Ekosistem Beasiswa Indonesia sebagai kerangka pengembangan talenta yang berkesinambungan, mulai dari pendidikan dasar dan menengah, pendidikan tinggi, hingga transisi menuju dunia kerja.

Kedua, penyusunan Pemetaan dan Matriks Pemangku Kepentingan Ekosistem Beasiswa untuk mengidentifikasi peran, kebutuhan, sumber daya, dan kapasitas masing-masing lembaga yang terlibat.

Kedua agenda tersebut menggunakan pendekatan Public-Private-Philanthropy-People (P4), yang menempatkan pemerintah, sektor swasta, filantropi, dan masyarakat sebagai bagian dari ekosistem kolaborasi, dengan penerima beasiswa sebagai kelompok yang perlu memperoleh manfaat nyata dari upaya bersama tersebut.

Dua prioritas hasil lokakarya menjadi bahan pembahasan dalam GSS 2026 untuk membangun kesepahaman dan mendorong komitmen tindak lanjut antarpihak.

Hasil forum dituangkan dalam dokumen Joint Communique yang merangkum arah kolaborasi para pemangku kepentingan.

Melalui jejaring AJBI, lembaga peserta diharapkan dapat memperluas kemitraan, berbagi praktik baik, dan mengembangkan program yang lebih sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat.

Aspirasi “Sejuta Kesempatan Beasiswa untuk Talenta Indonesia” pada akhirnya menempatkan perluasan kesempatan belajar sebagai agenda bersama.

Tantangannya bukan hanya menghadirkan lebih banyak peluang, melainkan memastikan informasi dapat dijangkau, program sesuai kebutuhan, dan dukungan pendidikan terhubung dengan pengembangan kompetensi jangka panjang.

Melalui penguatan kolaborasi lintas sektor, GSS 2026 mendorong terbentuknya ekosistem beasiswa yang lebih inklusif dan terarah, sehingga potensi talenta Indonesia memiliki ruang lebih luas untuk berkembang dan berkontribusi bagi masa depan bangsa.(PB01)