DEPOK, PERSBIRU.COM – Mahasiswa daerah tak harus berada di kampus besar untuk melahirkan gagasan yang relevan bagi masa depan Indonesia.

Ahmad Al Farizi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram, membuktikan hal itu melalui inovasi pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mengawal transparansi anggaran pemerintah.

Bersama timnya, Farizi berhasil meraih kategori Most Innovative Idea dalam rangkaian Future Leaders Camp dan Future Leaders Summit yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Bisnis dan Pariwisata, Depok, Jawa Barat, pada 7–9 Oktober 2026.

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas gagasan inovatif yang berangkat dari persoalan mendasar dalam tata kelola pemerintahan, yakni transparansi penggunaan uang rakyat.

Farizi dan tim mengusulkan pemanfaatan AI sebagai auditor digital yang dapat membantu memantau anggaran pemerintah secara real-time, sehingga pengawasan dapat dilakukan secara lebih cepat, terukur, dan responsif.

Gagasan ini menempatkan teknologi bukan sekadar sebagai simbol kemajuan digital, melainkan sebagai instrumen untuk memperkuat akuntabilitas publik.

Di tengah tuntutan masyarakat terhadap pemerintahan yang terbuka dan bertanggung jawab, inovasi tersebut menawarkan perspektif tentang bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengawasan pengelolaan anggaran.

Keikutsertaan Farizi dalam Future Leaders Camp dan Future Leaders Summit memberinya kesempatan untuk memperluas wawasan, bertukar gagasan, serta belajar langsung dari sejumlah tokoh nasional.

Selama tiga hari pelaksanaan kegiatan, para peserta mengikuti rangkaian pembelajaran dan diskusi kepemimpinan yang menghadirkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., serta sejumlah narasumber dari berbagai bidang.

Di antara tokoh yang disebut hadir sebagai narasumber adalah Syahganda Nainggolan dari BAKOM RI, Salman Subakat, Agung Wicaksono, Nurkholisoh Ibnu Aman selaku Wakil Menteri Keuangan, serta Prof. Fauzan selaku Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Forum tersebut juga menghadirkan mantan ketua badan eksekutif mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam sesi panel diskusi.

Pertemuan dengan para tokoh dan peserta dari berbagai latar belakang menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami kepemimpinan dari perspektif yang lebih luas.

Kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara di depan publik atau menduduki jabatan strategis, tetapi juga menyangkut integritas, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kemampuan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Bagi Farizi, pengalaman tersebut memperkuat pemahamannya bahwa posisi dan jabatan bukanlah ukuran utama seorang pemimpin.

Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawab dan memberikan pengaruh positif di lingkungan sekitarnya.

Salah satu refleksi yang dibawa Farizi dari forum kepemimpinan tersebut adalah pentingnya membangun karakter di tengah tuntutan untuk menjadi pemimpin muda yang kompeten dan berdaya saing.

Menurutnya, jabatan yang diemban seseorang bukan semata-mata simbol kemuliaan, melainkan amanah yang menuntut pertanggungjawaban.

Karena itu, kepemimpinan tidak selalu harus diwujudkan dengan berdiri paling depan atau memiliki jabatan formal.

Kepemimpinan juga dapat hadir melalui sikap, konsistensi, keputusan, dan pengaruh yang diberikan kepada orang lain.

Farizi memandang karisma dan karakter sebagai dua hal yang berbeda. Karisma dapat membuat seseorang menarik perhatian dan memperoleh pujian, sedangkan karakter menentukan bagaimana seseorang bertahan ketika menghadapi tekanan, tantangan, dan ujian.

“Karisma adalah popularitas, sedangkan karakter adalah mentalitas. Karisma membuat orang dipuji-puji, sedangkan karakter membuat orang menang ketika diuji,” menjadi pesan yang menegaskan pandangannya tentang arti kepemimpinan.

Pemikiran tersebut relevan bagi generasi muda yang kini memiliki akses luas terhadap ruang publik dan media digital.

Popularitas dapat tumbuh dengan cepat, tetapi kepercayaan dibangun melalui tindakan yang konsisten. Dalam konteks kepemimpinan, kemampuan menghasilkan gagasan perlu berjalan beriringan dengan integritas untuk memperjuangkan gagasan tersebut.

Di balik pencapaian yang diraih, Farizi menaruh harapan agar Future Leaders Camp dan Future Leaders Summit tidak berhenti sebagai kegiatan pengembangan kapasitas atau agenda seremonial semata.

Ia berharap gagasan yang dibawa para mahasiswa terpilih dapat didengar, dipertimbangkan, dan ditindaklanjuti oleh para pemangku kebijakan.

Menurutnya, forum kepemimpinan akan memiliki dampak yang lebih besar apabila gagasan peserta memperoleh ruang untuk berkembang menjadi solusi yang dapat diterapkan.

Harapan tersebut juga sejalan dengan gagasan inovasi yang diusungnya bersama tim. Pemanfaatan AI untuk memantau anggaran pemerintah, misalnya, membutuhkan kajian lanjutan, kesiapan data, mekanisme pengawasan, serta dukungan pemangku kepentingan agar dapat dikembangkan sesuai kebutuhan tata kelola pemerintahan.

Dengan demikian, penghargaan yang diraih bukan hanya menjadi pencapaian personal atau kebanggaan institusi, tetapi juga titik awal untuk menguji sejauh mana ide mahasiswa dapat berkontribusi terhadap persoalan nyata di masyarakat.

Bagi Farizi, keberhasilan sebuah forum kepemimpinan semestinya tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau kemeriahan pelaksanaannya, tetapi juga dari perubahan dan tindak lanjut yang lahir setelah kegiatan berakhir.

Sebagai mahasiswa UNW Mataram, Farizi juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa di daerah agar tidak menjadikan besar kecilnya kampus sebagai batas dalam menentukan cita-cita dan kemampuan diri.

Ia meyakini bahwa peluang untuk berkembang tidak semata-mata ditentukan oleh tempat seseorang menempuh pendidikan.

Kekuatan karakter, kemauan belajar, keberanian mengambil kesempatan, dan kesungguhan menghadirkan manfaat merupakan bekal penting untuk bersaing di tingkat nasional.

Farizi turut menyampaikan terima kasih kepada keluarga, para dosen, FKIP, dan UNW Mataram yang telah memberikan dukungan serta membentuk proses belajarnya hingga memperoleh kesempatan mengikuti forum tersebut.

Pengalaman dan jejaring yang diperolehnya selama kegiatan ingin dimanfaatkan untuk menularkan pengetahuan dan membuka wawasan bagi lebih banyak anak muda di Lombok dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Ia berharap semakin banyak mahasiswa daerah berani menyampaikan gagasan, mengembangkan inovasi, dan mengambil peran dalam menjawab tantangan bangsa.

Prestasi Farizi menjadi pengingat bahwa gagasan besar dapat tumbuh dari mana saja. Dari ruang belajar di Mataram hingga forum kepemimpinan nasional di Depok, mahasiswa daerah memiliki kesempatan untuk menyumbangkan pemikiran bagi Indonesia.

Lebih dari sekadar penghargaan Most Innovative Idea, pencapaian ini membawa pesan bahwa masa depan kepemimpinan Indonesia membutuhkan anak muda yang bukan hanya berani bermimpi, tetapi juga mampu menawarkan solusi, menjaga integritas, dan memastikan gagasannya memberi manfaat nyata bagi masyarakat.(PB01)