LOMBOK TIMUR, PERSBIRU.COM – Di balik aktivitas ribuan masjid di Kabupaten Lombok Timur, ada para marbot yang setiap hari memastikan rumah ibadah tetap hidup, bersih, dan terawat. Mereka membersihkan masjid, menjaga fasilitas, hingga mengingatkan masyarakat ketika waktu salat tiba.
Kini, keberadaan mereka mendapat perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur. Sebanyak 4.000 marbot dan guru ngaji didaftarkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk perlindungan atas pekerjaan yang selama ini mereka jalankan di tengah masyarakat.
Kebijakan tersebut tidak lepas dari perhatian Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, terhadap peran marbot dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Hal itu disampaikan Bupati saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Bagik Nyaka, Kecamatan Aikmel.
Bupati yang akrab disapa Bupati Iron itu menilai perhatian terhadap kehidupan keagamaan tidak cukup hanya dengan membangun atau memperbaiki fasilitas masjid. Orang-orang yang berada di balik keberlangsungan aktivitas masjid juga perlu mendapat perhatian.
Lombok Timur sendiri memiliki tak kurang dari 1.435 masjid. Jumlah tersebut menjadi salah satu gambaran kuatnya aktivitas keagamaan di daerah itu. Tak heran jika Bupati Iron menyebut masyarakat Lombok Timur sebagai masyarakat yang religius.
Kondisi tersebut juga sejalan dengan arah pembangunan daerah. Aspek religius menjadi salah satu fokus Pemerintah Kabupaten Lombok Timur yang dituangkan dalam RPJMD 2025–2029.
Dalam konteks itulah, peran marbot menjadi penting. Mereka bukan sekadar orang yang membersihkan masjid. Marbot turut memastikan masjid dapat digunakan dan menjadi bagian dari aktivitas keagamaan masyarakat setiap hari.
Mulai dari membuka dan menjaga masjid, membersihkan lingkungan serta fasilitasnya, merawat berbagai perlengkapan, hingga mengingatkan masyarakat mengenai waktu salat, menjadi bagian dari aktivitas yang melekat pada keseharian para marbot.
Menurut Bupati Iron, kontribusi tersebut patut mendapatkan perhatian pemerintah.
Salah satu persoalan yang menjadi pertimbangan adalah masa depan para marbot. Berbeda dengan pekerja pada sejumlah jenis pekerjaan formal, para marbot pada umumnya tidak memiliki sistem pensiun yang dapat menjamin kehidupan mereka setelah tidak lagi aktif bekerja.
Karena itu, pemerintah daerah mengambil langkah dengan memberikan perlindungan melalui kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
“Keberadaan marbot sangat penting,” menjadi garis besar perhatian Bupati Iron terhadap kelompok tersebut. Perlindungan itu diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi marbot selama menjalankan aktivitasnya, tetapi juga memberikan jaminan bagi keluarga apabila terjadi risiko yang berkaitan dengan pekerjaan.
Pendaftaran 4.000 marbot bersama guru ngaji sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan menjadi salah satu bentuk konkret perhatian Pemkab Lombok Timur terhadap mereka yang selama ini berkontribusi dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perhatian pemerintah tidak hanya diarahkan kepada kelompok pekerja di sektor formal.
Mereka yang menjalankan peran sosial-keagamaan di tengah masyarakat juga membutuhkan perlindungan atas risiko pekerjaan dan kepastian manfaat ketika menghadapi kondisi tertentu.
Bagi marbot, aktivitas menjaga masjid mungkin terlihat sederhana. Namun, pekerjaan tersebut berlangsung rutin dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat yang menjadikan masjid sebagai pusat ibadah sekaligus aktivitas sosial.
Dengan jumlah masjid yang mencapai sekitar 1.435, kebutuhan terhadap peran marbot pun tidak kecil. Keberadaan mereka menjadi bagian dari ekosistem yang membuat masjid tetap berfungsi dan aktif setiap hari.
Pemkab Lombok Timur berharap kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan tersebut nantinya dapat memberikan manfaat bagi para marbot maupun guru ngaji yang telah didaftarkan.
Perlindungan itu juga diharapkan dapat dirasakan keluarga mereka ketika menghadapi risiko yang tercakup dalam program BPJS Ketenagakerjaan.
Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memperkuat perhatian terhadap masyarakat sekaligus menjaga kehidupan religius yang menjadi salah satu karakter kuat Lombok Timur.
Di tengah ribuan masjid yang terus hidup dengan aktivitas masyarakat, para marbot dan guru ngaji kini tidak hanya dipandang sebagai bagian dari kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai kelompok yang layak mendapatkan perlindungan sosial melalui program jaminan ketenagakerjaan.
Dengan demikian, perhatian terhadap 4.000 marbot dan guru ngaji di Lombok Timur bukan sekadar soal kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
Lebih jauh, kebijakan tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap peran mereka yang selama ini ikut menjaga denyut kehidupan keagamaan masyarakat dari masjid ke masjid.(PB07)






