LOMBOK UTARA, PERSBIRU.COM – Di tengah ancaman kerusakan lingkungan dan perubahan iklim, sebuah desa adat di kaki Bayan, Kabupaten Lombok Utara, menunjukkan bahwa menjaga alam tidak selalu membutuhkan teknologi canggih. Di Karang Bajo, hutan, mata air, dan tradisi justru dirawat melalui kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Kearifan tersebut menarik perhatian Putri Mahkota Swedia, Victoria saat mengunjungi Desa Adat Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Minggu (6/9/2026).
Kunjungan itu bukan sekadar agenda diplomatik. Dalam kapasitasnya sebagai Goodwill Ambassador UNDP untuk Pembangunan Berkelanjutan, Putri Victoria melihat langsung bagaimana masyarakat adat Bayan membangun hubungan yang erat antara kelestarian alam, budaya, dan kehidupan sehari-hari.
Didampingi Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara, serta rombongan UNDP, Putri Victoria meninjau kehidupan masyarakat adat sekaligus praktik pelestarian lingkungan yang masih dipertahankan hingga kini.
Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Mata Air Mandala, yang berada di kawasan hutan adat. Di tempat tersebut, Putri Victoria mengikuti kegiatan penanaman pohon dan berdialog dengan masyarakat mengenai pengetahuan lokal yang selama ini menjadi pedoman dalam menjaga alam.
Bagi Putri Victoria, pengalaman tersebut memberikan kesan tersendiri.
Ia menilai apa yang dilakukan masyarakat Karang Bajo memiliki arti jauh melampaui kepentingan desa. Pengetahuan dan kearifan lokal yang terus diwariskan dinilai memiliki peran penting dalam menjaga sumber daya alam sekaligus memastikan keberlanjutannya bagi generasi mendatang.
“Apa yang Bapak dan Ibu lakukan di sini sangat penting, bukan hanya bagi kehidupan masyarakat, tetapi juga bagi upaya menjaga sumber daya alam yang ada. Mendengar pengetahuan dan kearifan lokal yang terus diwariskan kepada generasi mendatang merupakan sesuatu yang sangat penting,” kata Putri Victoria.
Ia juga mengungkapkan rasa haru atas sambutan masyarakat adat Karang Bajo.
“Saya sangat tersentuh dan merasa terhormat dapat menjadi bagian dari masyarakat di sini. Terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang telah menyambut saya dengan begitu hangat dan menerima saya sebagai bagian dari budaya masyarakat di sini,” sambungnya.
Di Karang Bajo, menjaga lingkungan bukan sekadar program penghijauan atau agenda konservasi. Bagi masyarakat adat Bayan, alam merupakan bagian dari kehidupan yang memiliki hubungan erat dengan manusia dan budaya.
Hutan, mata air, serta tradisi dipandang sebagai satu kesatuan. Karena itu, keberadaan alam dijaga melalui pranata adat, aturan sosial, prosesi, hingga berbagai pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pemekel Karang Bajo, Nikrana, menjelaskan bahwa masyarakat adat memiliki filosofi yang menempatkan bumi sebagai ibu yang harus dihormati dan dijaga.
Filosofi tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai aturan dan tradisi yang mengatur hubungan manusia dengan lingkungan.
“Hubungan masyarakat adat dengan alam dan hutan hingga hari ini terus menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat Bayan,” ujar Nikrana.
Prinsip itu pula yang membuat keberadaan hutan adat tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat.
Di wilayah Bayan terdapat empat kawasan hutan adat dengan sedikitnya 27 mata air. Keberadaan mata air tersebut sangat penting karena menjadi sumber kehidupan masyarakat, baik untuk kebutuhan air bersih maupun mendukung aktivitas pertanian.
Dengan kata lain, bagi masyarakat Bayan, menjaga hutan berarti menjaga air. Menjaga air berarti menjaga keberlangsungan kehidupan.
Karang Bajo tidak hanya dikenal sebagai desa adat. Wilayah ini juga berkembang sebagai desa wisata yang masih mempertahankan kehidupan dan tradisi masyarakat Bayan.
Di tengah geliat pariwisata Lombok Utara, Karang Bajo menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar panorama alam.
Desa ini memperlihatkan bagaimana aktivitas wisata dapat tumbuh berdampingan dengan budaya dan kehidupan masyarakat tanpa harus menghilangkan identitas lokal.
Kearifan tersebut menjadi semakin relevan ketika dunia menghadapi tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta semakin besarnya kebutuhan untuk menjaga sumber daya alam secara berkelanjutan.
Kunjungan Putri Victoria pun menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa solusi terhadap persoalan lingkungan tidak selalu datang dari pendekatan modern semata.
Pengetahuan yang telah hidup selama ratusan tahun di tengah masyarakat juga dapat menjadi bagian penting dari agenda pembangunan berkelanjutan.
Dari Karang Bajo, pesan yang muncul bukan hanya tentang keindahan sebuah desa adat di Lombok Utara.
Ada cerita tentang masyarakat yang menjadikan hutan sebagai bagian dari kehidupan, mata air sebagai sumber keberlanjutan, dan budaya sebagai pedoman dalam memperlakukan alam.
Kearifan lokal yang selama ini hidup di tengah masyarakat Bayan itu kini mendapat perhatian hingga tingkat internasional.
Dan dari sebuah desa adat di Lombok Utara, dunia kembali diingatkan bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: menghormati alam sebagai bagian dari kehidupan.(PB03)






