LOMBOK TENGAH, PERSBIRU.COM – Gelaran MotoGP Mandalika tak hanya menjadi panggung adu kecepatan para pembalap dunia. Di balik riuhnya balapan di Sirkuit Internasional Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB), ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkenalkan produk lokal kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Peluang itu hadir melalui Lombok Sumbawa Festival (LSF) 2026 yang digelar di area belakang Great Stand B, Sirkuit Internasional Mandalika, Sabtu (10/10/2026).
Sebanyak 139 UMKM ambil bagian dalam festival yang memadukan promosi produk lokal, pertunjukan seni tradisional, serta penguatan ekonomi kreatif daerah.
Pemerintah Provinsi NTB mendorong festival tersebut menjadi lebih dari sekadar kegiatan pendamping MotoGP.
LSF diharapkan menjadi ruang bagi produk lokal untuk meningkatkan kualitas, memperluas jangkauan pemasaran, dan membuka peluang menembus pasar internasional.
Kemeriahan festival diawali dengan pertunjukan seni tradisional Cilokak Akselerasi dan tarian khas Sumbawa.
Nuansa budaya lokal menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang ke kawasan Mandalika untuk menyaksikan ajang balap motor internasional tersebut.
Di sisi lain, para pelaku UMKM memanfaatkan keramaian untuk menawarkan beragam produk unggulan. Kehadiran wisatawan asing memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada calon konsumen dari berbagai negara.
Mewakili Gubernur NTB, Asisten II Setda NTB sekaligus Ketua Panitia Daerah MotoGP, HL Moh. Faozal, mengapresiasi penyelenggaraan Lombok Sumbawa Festival sebagai bagian dari upaya mempromosikan potensi daerah di tengah agenda olahraga internasional.
Menurut Faozal, kualitas produk dan kesiapan pelaku usaha menjadi aspek penting dalam memanfaatkan peluang yang muncul dari penyelenggaraan MotoGP.
Penataan serta kurasi produk yang dilakukan dengan melibatkan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTB turut mendorong pelaku usaha meningkatkan daya tarik produknya.
“Ini pelaksanaan yang keempat. UMKM semakin menyesuaikan dengan SOP di Mandalika. Produk-produknya sudah makin cantik dan menarik. Karena ini event internasional, suasana yang disajikan pun harus berstandar internasional,” ujar Faozal saat membuka LSF 2026.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya kesiapan UMKM dalam menghadapi konsumen yang lebih beragam.
Selain kualitas produk, penampilan, pelayanan, dan standar operasional juga menjadi bagian dari pengalaman berbelanja yang diperhatikan pengunjung.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, Ahmad Nur Aulia, mengatakan LSF menjadi panggung bagi daerah untuk memperkenalkan kekayaan budaya sekaligus potensi ekonomi kreatif kepada dunia.
“Ini merupakan panggung bagi Nusa Tenggara Barat pada momen penyelenggaraan MotoGP untuk menampilkan potensi yang dimilikinya, baik potensi budaya maupun potensi ekonomi kreatif,” katanya.
Ia menjelaskan, penyelenggaraan festival yang berkolaborasi dengan Dekranasda NTB tersebut juga diarahkan untuk menghasilkan dampak yang lebih luas.
Manfaat kegiatan tidak hanya diukur dari aktivitas ekonomi, tetapi juga dari dampak sosial budaya dan lingkungan.
“Event ini dipotret untuk melihat bagaimana dampak ekonominya, dampak sosial budayanya, serta dampak positif terhadap lingkungannya, sejalan dengan pesan Gubernur agar setiap kebijakan berdampak dan inklusif,” jelasnya.
Dalam laporannya, Ahmad Nur Aulia merinci bahwa 139 UMKM berpartisipasi dalam Lombok Sumbawa Festival 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 114 UMKM difasilitasi melalui pembinaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Koperasi dan UMKM NTB. Sementara itu, 25 UMKM lainnya mendapat dukungan melalui BPR NTB.
Selain fasilitas pameran, pelaku UMKM juga memperoleh dukungan tabung Bright Gas secara gratis dari Pertamina Patra Niaga. Dukungan tersebut diserahkan secara simbolis dalam rangkaian kegiatan festival.
Keterlibatan berbagai pihak ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem usaha lokal. Melalui dukungan pembinaan dan fasilitas, pelaku UMKM diharapkan dapat memanfaatkan momentum MotoGP untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan kesiapan usaha mereka.
Namun, besarnya peluang promosi tersebut tetap perlu diikuti dengan dukungan operasional yang memadai.
Kelancaran transaksi, kenyamanan lokasi berjualan, dan akses pengunjung menjadi faktor penting agar manfaat kegiatan dapat dirasakan langsung oleh para pedagang.
Peluang tersebut dirasakan Dwi, pelaku UMKM asal Lembar, Lombok Barat, yang menjajakan donat dan minuman, termasuk coconut shake, selama festival berlangsung.
Dwi mengaku bersyukur karena dagangannya mendapat sambutan positif dari pengunjung. Kedua produk tersebut menjadi menu yang paling banyak diminati selama ia berjualan di kawasan Mandalika. “Alhamdulillah, laris,” ujarnya.
Menurut Dwi, pembelinya tidak hanya berasal dari kalangan wisatawan domestik. Wisatawan mancanegara juga datang membeli produk yang ditawarkan, bahkan menjadi kelompok pembeli yang cukup dominan selama ia berjualan.
Pengalaman itu menunjukkan bagaimana ajang internasional dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi usaha kecil.
Tanpa harus terlebih dahulu membuka gerai di luar negeri, pelaku UMKM berkesempatan memperkenalkan produknya kepada konsumen asing yang berkunjung ke Lombok.
Meski demikian, pengalaman berjualan di tengah perhelatan besar tersebut bukan tanpa kendala. Dwi mengungkapkan bahwa gangguan layanan QRIS membuat transaksi tunai lebih banyak digunakan oleh pembeli.
Persoalan pembayaran digital menjadi catatan penting di tengah upaya mendorong UMKM agar semakin siap melayani konsumen modern.
Infrastruktur transaksi yang andal dibutuhkan agar peluang penjualan tidak terhambat, terutama ketika pengunjung datang dalam jumlah besar.
Dwi, yang baru pertama kali mengikuti festival di Mandalika, juga berharap penyelenggaraan tahun berikutnya dapat menghadirkan lebih banyak pengunjung.
Ia menginginkan area berjualan yang lebih luas serta tempat yang lebih nyaman dan teduh bagi pedagang maupun pembeli.
Karena baru pertama kali berpartisipasi, ia mengaku belum dapat membandingkan hasil penjualannya di Mandalika dengan pengalaman mengikuti bazar lain.
Kehadiran 139 UMKM dalam LSF 2026 memperlihatkan besarnya potensi integrasi antara pariwisata olahraga dan ekonomi kreatif di NTB.
MotoGP mendatangkan perhatian internasional, sementara festival memberikan ruang bagi produk lokal untuk tampil di hadapan pengunjung.
Namun, peluang tersebut perlu diterjemahkan menjadi manfaat ekonomi yang terukur. Peningkatan penjualan, perluasan jaringan konsumen, kualitas produk, dan keberlanjutan usaha menjadi sejumlah aspek yang penting diperhatikan dalam evaluasi penyelenggaraan berikutnya.
Penyelenggara juga perlu mempertimbangkan masukan pelaku usaha mengenai sistem pembayaran, kapasitas area berjualan, dan kenyamanan lokasi.
Dengan begitu, festival tidak hanya menjadi etalase produk lokal, tetapi juga memberikan pengalaman berusaha yang lebih baik bagi UMKM.
Melalui peningkatan kualitas produk, pembinaan berkelanjutan, dukungan fasilitas, serta sistem transaksi yang andal, UMKM NTB diharapkan semakin siap memanfaatkan peluang dari agenda internasional.
Momentum MotoGP Mandalika pun dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan produk lokal kepada pasar yang lebih luas.
Sejumlah pejabat turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri, Sekda NTB Abul Chair, Ketua Dekranasda NTB Hj. Sinta Agathia Iqbal, Kepala BPS RI, Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga, GM PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Kepala Bappeda NTB, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, serta sejumlah pejabat dan tamu undangan lainnya.(PB03)






