LOMBOK TENGAH, PERSBIRU.COM – Upaya mengungkap identitas korban bencana gempa bumi dan tsunami Jepang pada 2011 kembali dilakukan, kali ini melalui pengambilan sampel DNA keluarga yang berada di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Bid Dokkes) Polda NTB mendampingi tim National Police Agency (NPA) Kedutaan Besar Jepang untuk mengambil sampel DNA pembanding sebagai bagian dari proses identifikasi korban.

Pengambilan sampel berlangsung di kawasan Gawah Malang, Desa Mujur, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah, Kamis (15/10/2026), mulai pukul 10.00 Wita.

Sampel diambil dari dua orang yang diduga merupakan saudara kandung korban meninggal dunia dalam bencana gempa bumi dan tsunami Jepang pada 2011.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya pencocokan data genetik untuk membantu memastikan identitas korban.

Melalui sampel DNA dari anggota keluarga yang memiliki hubungan biologis, proses identifikasi diharapkan dapat dilakukan secara lebih akurat.

Dalam kegiatan tersebut, tim menggunakan metode buccal swab, yakni pengambilan sampel DNA melalui usapan pada bagian dalam pipi.

Metode ini memungkinkan pengumpulan materi genetik untuk memperoleh profil DNA pembanding yang selanjutnya dapat digunakan dalam proses identifikasi.

Sampel dari keluarga memiliki peran penting dalam identifikasi korban bencana, terutama ketika identitas korban belum dapat dipastikan melalui metode lain.

Data genetik keluarga dapat membantu proses pencocokan dengan profil DNA yang tersedia, sesuai prosedur pemeriksaan dan analisis forensik.

Pengambilan sampel dilakukan dengan melibatkan personel Subbidang Dokpol Bid Dokkes Polda NTB, tim Laboratorium Dokkes Pusdokkes Polri, serta perwakilan National Police Agency (NPA) Kedutaan Besar Jepang.

Keterlibatan sejumlah unsur tersebut memperlihatkan pentingnya koordinasi lintas lembaga dalam mendukung proses identifikasi korban bencana yang membutuhkan ketelitian, kompetensi forensik, dan pertukaran informasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda NTB, Kombes Pol. dr. Iskandar, Sp.B., MARS., FQUA., mengatakan pendampingan tersebut merupakan bentuk dukungan Polri terhadap upaya identifikasi korban bencana melalui pemeriksaan DNA pembanding.

Menurut Iskandar, kegiatan itu dilaksanakan dengan memperhatikan prosedur yang berlaku serta kondisi keluarga yang terlibat dalam proses pengambilan sampel.

“Pengambilan sampel DNA pembanding ini menjadi bagian dari upaya membantu proses identifikasi korban bencana. Kami mendukung pelaksanaan kegiatan secara profesional, dengan tetap memperhatikan prosedur serta kondisi keluarga yang terlibat,” ujar Iskandar.

Ia menegaskan, dukungan personel Dokkes Polri diperlukan untuk memastikan tahapan pengambilan sampel berjalan sesuai prosedur.

Dalam pemeriksaan forensik, ketepatan proses pengumpulan dan penanganan sampel menjadi salah satu unsur penting untuk menunjang keandalan hasil pemeriksaan berikutnya.

Meski demikian, pengambilan sampel DNA pembanding bukanlah hasil akhir dari proses identifikasi. Sampel tersebut masih perlu melalui tahapan pemeriksaan dan pencocokan dengan data genetik yang relevan sebelum dapat digunakan untuk mendukung penetapan identitas korban.

Dari pihak Jepang, kegiatan tersebut dihadiri Atase NPA Kedutaan Besar Jepang, Satoh Takuma, serta Regional Security Officer Kuwamoto Akihiro. Tim juga melibatkan Pembina Pusdokkes Polri, Anak Agung G. Raka Ardian S.

Kehadiran perwakilan kepolisian Jepang bersama unsur Dokkes Polri menunjukkan adanya koordinasi antara kedua pihak dalam mendukung proses identifikasi korban bencana yang berkaitan dengan keluarga di Indonesia.

Kerja sama semacam ini memiliki arti penting dalam penanganan kasus lintas negara. Identifikasi korban bencana dapat membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari keluarga yang menyediakan sampel pembanding hingga lembaga berwenang yang menangani pemeriksaan dan pencocokan data forensik.

Dalam konteks tersebut, pengambilan sampel DNA di Lombok Tengah menjadi salah satu tahapan yang diharapkan dapat membantu proses pencarian kepastian identitas korban gempa bumi dan tsunami Jepang pada 2011.

Bagi keluarga yang masih menantikan informasi mengenai anggota keluarganya, kepastian identitas merupakan hal yang sangat berarti.

Namun, proses tersebut membutuhkan pemeriksaan yang cermat agar kesimpulan yang dihasilkan didasarkan pada data dan prosedur ilmiah.

Iskandar berharap kegiatan pengambilan sampel DNA pembanding tersebut dapat memberikan kontribusi nyata terhadap proses identifikasi yang sedang dilakukan.

“Kami berharap pengambilan sampel ini dapat mendukung proses identifikasi, sekaligus memberi kejelasan bagi keluarga yang menantikan informasi mengenai anggota keluarganya,” tutup Kombes Pol. Iskandar.

Melalui pendampingan ini, Bid Dokkes Polda NTB bersama Pusdokkes Polri dan perwakilan NPA Kedutaan Besar Jepang berharap proses identifikasi korban bencana dapat memperoleh dukungan data pembanding yang diperlukan.

Tahapan tersebut sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan kepastian bagi keluarga yang masih menunggu informasi mengenai orang-orang terkasih mereka.(PB03)