LOMBOK TENGAH, PERSBIRU.COM – Gemuruh MotoGP Mandalika 2026 tak hanya menghadirkan adu kecepatan di lintasan, tetapi juga membuka peluang bisnis bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Di tengah antusiasme penonton, kaus bergambar pembalap muda Indonesia Veda Ega Pratama dan juara dunia Marc Marquez menjadi salah satu merchandise yang menarik perhatian pembeli.

Geliat perdagangan mulai terasa sejak hari pertama penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026. Sejumlah pedagang merchandise memanfaatkan momentum ajang balap motor internasional tersebut untuk menawarkan beragam produk kepada pengunjung, mulai dari kaus bertema pembalap hingga pakaian yang bisa dijadikan kenang-kenangan dari Sirkuit Mandalika.

Darsono, pedagang merchandise asal Semarang, menjadi salah satu pelaku usaha yang merasakan langsung ramainya aktivitas jual beli tersebut.

Ia mengaku penjualan pada hari pertama cukup menjanjikan, dengan kaus bergambar Veda Ega Pratama dan Marc Marquez sebagai produk yang banyak diminati pengunjung.

“Untuk hari pertama ini, penjualan sudah lumayan ramai. Yang banyak diminati pembeli itu kaus Veda Ega Pratama dan Marc Marquez,” ujar Darsono.

Untuk memenuhi kebutuhan pengunjung, Darsono menawarkan kaus hasil produksi sendiri dengan harga yang dibedakan berdasarkan ukuran. Kaus untuk orang dewasa dijual sekitar Rp150 ribu per potong, sedangkan ukuran anak-anak dibanderol Rp100 ribu.

Harga tersebut memberikan pilihan bagi pengunjung yang ingin membawa pulang merchandise bertema MotoGP, baik untuk digunakan selama menonton balapan maupun sebagai koleksi pribadi setelah ajang berakhir.

Daya tarik kaus bergambar pembalap juga memperlihatkan bagaimana merchandise menjadi bagian dari pengalaman menonton MotoGP.

Bagi penggemar, mengenakan pakaian dengan gambar pembalap favorit bukan sekadar persoalan gaya, melainkan juga cara menunjukkan dukungan dan menyimpan kenangan dari sebuah perhelatan olahraga.

Nama Veda Ega Pratama menjadi salah satu yang menarik perhatian pembeli. Sementara itu, Marc Marquez memiliki daya tarik tersendiri bagi penggemar balap motor yang mengikuti kiprah pembalap papan atas dunia tersebut.

Keduanya menawarkan daya tarik berbeda bagi konsumen. Sosok Veda mewakili kebanggaan terhadap pembalap Indonesia, sedangkan Marquez memiliki basis penggemar yang luas di kalangan pencinta MotoGP.

Kondisi ini menjadi peluang bagi pedagang untuk menghadirkan produk yang sesuai dengan minat pengunjung.

Meski demikian, tingkat penjualan selama keseluruhan penyelenggaraan masih bergantung pada jumlah pembeli dan perkembangan aktivitas di kawasan sirkuit.

Bagi Darsono, berjualan di Mandalika selama MotoGP bukan sekadar memanfaatkan keramaian sesaat. Kehadiran pengunjung dari berbagai daerah membuka kesempatan untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan selama acara berlangsung.

Ia datang langsung dari Semarang untuk menjajakan merchandise di kawasan penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026.

Menurutnya, proses perizinan untuk berjualan berjalan aman dan lancar, sehingga ia dapat menjalankan aktivitas usahanya tanpa kendala berarti.

“Perizinannya aman dan lancar, tidak ada kendala. Mudah-mudahan untuk hari kedua dan ketiga nanti semakin ramai, sehingga penjualan juga bisa lebih bagus,” katanya.

Harapan tersebut menjadi penting bagi pedagang yang menggantungkan peluang penjualannya pada tingginya kunjungan selama gelaran MotoGP.

Semakin besar antusiasme penonton, semakin terbuka pula kesempatan bagi pelaku usaha untuk menawarkan produk kepada calon pembeli.

Bagi UMKM, ajang olahraga internasional seperti MotoGP Mandalika dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada konsumen.

Namun, besarnya manfaat ekonomi yang dirasakan masing-masing pedagang tetap ditentukan oleh berbagai faktor, termasuk lokasi berjualan, harga, jenis produk, dan minat pengunjung.

Minat terhadap merchandise MotoGP ternyata tidak terbatas pada penggemar dewasa. Angga, salah seorang pengunjung MotoGP Mandalika 2026, mengaku tertarik membeli kaus pembalap untuk anak-anak.

Baginya, pakaian bertema balap motor memiliki daya tarik tersendiri, terutama sebagai buah tangan yang dapat dikenakan setelah kembali dari Mandalika.

“Saya tertarik membeli baju pembalap untuk anak-anak. Selain menarik, baju ini juga bisa menjadi kenang-kenangan dari MotoGP Mandalika,” ujar Angga.

Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa merchandise MotoGP dapat menjangkau segmen konsumen yang lebih luas.

Selain penggemar yang membeli untuk koleksi pribadi, orang tua juga dapat menjadikannya pilihan pakaian bagi anak-anak atau oleh-oleh dari sebuah acara olahraga.

Bagi pedagang, keberadaan segmen pembeli keluarga membuka peluang untuk menawarkan produk dalam beragam ukuran.

Kaus anak-anak dengan harga sekitar Rp100 ribu, misalnya, menjadi alternatif bagi pengunjung yang ingin membawa pulang kenang-kenangan tanpa harus membeli produk berukuran dewasa.

Ramainya penjualan merchandise pada hari pertama menjadi salah satu gambaran aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitar MotoGP Mandalika 2026.

Di balik persaingan para pembalap di lintasan, terdapat pelaku usaha yang berupaya memanfaatkan kedatangan pengunjung untuk menggerakkan bisnis mereka.

Momentum ini juga menunjukkan bahwa dampak sebuah ajang olahraga dapat hadir melalui berbagai sektor pendukung, termasuk perdagangan pakaian, cendera mata, kuliner, dan jasa bagi wisatawan.

Bagi UMKM, tantangannya bukan hanya menarik perhatian pembeli pada hari pertama, melainkan mempertahankan penjualan hingga seluruh rangkaian acara berakhir.

Ketersediaan produk yang sesuai dengan minat konsumen, harga yang kompetitif, dan pelayanan kepada pengunjung menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi keputusan pembelian.

Darsono berharap keramaian pada hari pertama menjadi awal yang baik bagi penjualan pada hari-hari berikutnya.

Harapan serupa juga menjadi gambaran optimisme para pedagang yang datang untuk mengambil bagian dalam momentum MotoGP Mandalika.

Pada akhirnya, semarak MotoGP Mandalika 2026 tidak hanya diukur dari persaingan di lintasan, tetapi juga dari peluang yang tercipta bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Ketika penggemar berburu merchandise pembalap favorit, UMKM mendapatkan kesempatan untuk mengubah antusiasme olahraga menjadi aktivitas ekonomi yang memberikan manfaat nyata.

Bagi Darsono dan pedagang lainnya, setiap kaus yang terjual menjadi bagian dari upaya memaksimalkan peluang di tengah salah satu ajang balap motor paling bergengsi yang digelar di Indonesia.(PB03)