LOMBOK TENGAH, PERSBIRU.COM – Sebelum deru mesin MotoGP menggema di Pertamina Mandalika International Circuit, Mandalika lebih dulu menundukkan kepala dalam sebuah tradisi.
Betabeq digelar sebagai simbol permohonan izin, restu, sekaligus doa keselamatan menjelang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026.
Tradisi masyarakat Sasak itu kembali berlangsung di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Rabu malam (16/9/2026).
Di tengah persiapan menyambut ribuan penonton dan tamu dari berbagai negara, betabeq menjadi pengingat bahwa sebuah perhelatan internasional tidak hanya berbicara tentang kecepatan dan persaingan di lintasan.
Ada budaya, masyarakat, dan lingkungan yang menjadi bagian penting dari wajah Mandalika.
Tradisi betabeq yang diselenggarakan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) tersebut berlangsung di Gedung VIP Deluxe Lantai 2 Pertamina Mandalika International Circuit.
Sejumlah tokoh hadir, di antaranya Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal; Vice Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, Ananda Mikola; Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, jajaran ITDC, penyelenggara MotoGP, serta masyarakat lingkar Mandalika.
Bagi masyarakat Sasak, betabeq bukan sekadar seremoni. Tradisi ini mengandung nilai penghormatan kepada masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan para leluhur.
Di dalamnya juga terdapat pesan penerimaan terhadap tamu yang datang serta harapan agar hajat besar yang akan dilaksanakan berjalan lancar dan selamat.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal mengatakan nilai tersebut menjadi penting ketika Mandalika menjadi tuan rumah event berskala internasional.
“Betabeq pada hakikatnya adalah permohonan izin, restu dan doa keselamatan sebelum kita melaksanakan sebuah hajat besar. Di dalamnya ada penghormatan kepada masyarakat, tokoh agama, tokoh adat dan para leluhur, sekaligus pesan persaudaraan dan penerimaan terhadap siapa pun yang datang,” ujar Gubernur Iqbal.
Menurutnya, geliat Mandalika tidak boleh hanya dipandang sebagai proyek atau kawasan yang berkembang karena event internasional. Masyarakat lokal harus ikut merasakan dan menjadi bagian dari pertumbuhan kawasan tersebut.
“Mandalika bukan lagi semata-mata milik pemerintah pusat ataupun milik pihak tertentu. Sesungguhnya Mandalika adalah milik kita bersama,” tegasnya.
Pesan tersebut, kata Gubernur Iqbal, perlu diwujudkan dalam bentuk keterlibatan masyarakat secara nyata. Salah satunya melalui keterlibatan warga NTB dalam penyelenggaraan berbagai event di kawasan tersebut.
Ia menyebut sekitar 2.500 marshal dalam penyelenggaraan event di Mandalika akan diisi oleh masyarakat NTB, khususnya warga di sekitar kawasan. Selain itu, ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal juga terus dibuka dalam berbagai kegiatan.
“Ini adalah bentuk nyata dari upaya mengedepankan peran masyarakat lokal. Mandalika harus semakin inklusif. Harapan kita, masyarakat benar-benar merasa bahwa kawasan ini adalah milik mereka,” katanya.
Bagi pemerintah daerah, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kunci agar keberadaan Mandalika tidak menciptakan jarak dengan warga di sekitarnya.
Event internasional diharapkan bukan hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat lokal.
Karena itu, Gubernur Iqbal mengajak masyarakat NTB turut menyukseskan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 dengan menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, keramahan, serta kelestarian lingkungan.
Sebab, wajah Mandalika selama MotoGP berlangsung tidak hanya ditentukan oleh penyelenggara maupun pembalap yang tampil di lintasan. Masyarakat sebagai tuan rumah juga menjadi bagian dari pengalaman yang dibawa pulang oleh para pengunjung.
Vice Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, Ananda Mikola juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam menyambut gelaran MotoGP di Mandalika.
Menurutnya, dukungan dari pemerintah, masyarakat, penyelenggara, serta berbagai pihak terkait dibutuhkan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik.
“Kami sangat membutuhkan kolaborasi dan dukungan dari seluruh pihak, terutama dalam mendukung pelaksanaan kegiatan yang telah kami persiapkan,” ujar Ananda.
Kolaborasi tersebut menjadi semakin penting karena MotoGP Mandalika tidak hanya menghadirkan aktivitas di dalam sirkuit.
Pergerakan wisatawan dan penonton juga memberikan dampak terhadap berbagai sektor di sekitar kawasan, mulai dari UMKM, perdagangan, jasa, transportasi hingga akomodasi dan pariwisata.
Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri mengapresiasi pelaksanaan betabeq sebagai bagian dari upaya mempertahankan budaya lokal di tengah berkembangnya Mandalika sebagai destinasi pariwisata dan venue olahraga internasional.
Menurutnya, kekuatan sebuah destinasi tidak hanya dibangun dari keindahan alam dan fasilitas yang tersedia. Budaya serta karakter masyarakat juga menjadi bagian dari identitas yang membuat sebuah daerah memiliki daya tarik.
Keberadaan event besar seperti MotoGP, lanjutnya, sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat. Namun, peluang tersebut perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab menjaga keamanan, ketertiban, keramahan, dan kondusivitas kawasan.
“Mari kita bersama-sama menjaga, melestarikan dan mengembangkan tradisi ini untuk kepentingan masyarakat serta generasi yang akan datang,” ujarnya.
Pada akhirnya, betabeq menghadirkan pesan yang sederhana tetapi kuat menjelang MotoGP Mandalika 2026: ketika dunia datang ke Lombok, masyarakat Sasak tetap membuka pintu dengan cara mereka sendiri.
Sebelum sorotan kamera dunia tertuju pada lintasan dan suara mesin memecah suasana Mandalika, doa dan restu lebih dulu dipanjatkan.
Mandalika boleh menjadi panggung olahraga dunia. Namun, di balik gemerlapnya, kawasan itu tetap memiliki akar: budaya Sasak, masyarakat lokal, dan alam yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas NTB.
Dari sanalah sebuah hajat besar dimulai—dengan izin, restu, doa keselamatan, dan harapan agar Mandalika tidak hanya mendunia, tetapi juga tumbuh bersama masyarakat yang menjadi tuan rumahnya.(PB01)






