MATARAM, PERSBIRU.COM – Enam hari berada di tengah situasi pascagempa Nusa Tenggara Timur (NTT), Tim Kesehatan Nusa Tenggara Barat (NTB) telah memberikan 3.307 layanan kesehatan kepada masyarakat terdampak.

Angka tersebut sekaligus menjadi gambaran besarnya kebutuhan medis warga setelah gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026.

Pelayanan itu dilakukan sebagai bagian dari misi Solidaritas Kemanusiaan KR-BNN NTB yang menjangkau tujuh kabupaten terdampak, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Ende, Manggarai Barat, Nagekeo, dan Ngada.

Juru Bicara Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB sekaligus Ketua Tim Koordinator Solidaritas KR-BNN NTB, Ahsanul Khalik, mengatakan tingginya jumlah layanan menunjukkan kebutuhan kesehatan masyarakat masih cukup besar meski fase awal tanggap bencana telah berlalu.

“Angka 3.307 layanan itu menunjukkan bahwa kebutuhan kesehatan masyarakat di lapangan memang cukup besar. Karena itu, sejak awal respons yang kita bangun bukan hanya menempatkan tenaga kesehatan di satu titik, tetapi memperkuat pos pelayanan dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” kata Ahsanul Khalik, di Mataram, Rabu (26/8/2026).

Gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 berdampak terhadap 1.915.194 penduduk di tujuh kabupaten. Dari jumlah tersebut, sebanyak 83 orang meninggal dunia, 331 orang mengalami luka berat, dan 639 orang mengalami luka ringan.

Sementara itu, 43.686 warga harus mengungsi yang tersebar di 400 titik pengungsian.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan pelayanan kesehatan tidak berhenti pada penanganan korban luka. Ketersediaan obat-obatan, kesehatan lingkungan, sanitasi, air bersih, hingga pengawasan penyakit yang berpotensi berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB) menjadi bagian penting dalam respons pascabencana.

Untuk memperkuat pelayanan, NTB mengerahkan 89 relawan kesehatan dalam dua tahap pemberangkatan. Sebanyak 53 relawan atau 60 persen diberangkatkan pada tahap pertama, kemudian 36 relawan atau 40 persen pada tahap kedua.

Tim tersebut diperkuat 32 perawat dan 28 dokter. Selain itu, terdapat enam apoteker, tiga tenaga administrasi kesehatan, tiga psikolog, dua epidemiolog, dua tenaga kesehatan lingkungan, seorang bidan, seorang analis, serta tenaga pendukung lainnya.

Salah satu basis pelayanan Tim Kesehatan NTB berada di Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.

Dari lokasi tersebut, tim juga bergerak secara mobile untuk menjangkau masyarakat sekaligus memperkuat sejumlah pos kesehatan yang masih membutuhkan tenaga medis.

Data harian menunjukkan lonjakan kebutuhan pelayanan terjadi hanya dalam beberapa hari setelah tim diterjunkan.

Pada 20 Agustus, tercatat 134 layanan. Sehari kemudian jumlahnya melonjak menjadi 367 layanan.

Puncaknya terjadi pada 22 Agustus dengan 1.340 layanan dalam sehari.

Setelah itu, jumlah pelayanan berangsur turun menjadi 879 layanan pada 23 Agustus, 381 layanan pada 24 Agustus, dan 201 layanan pada 25 Agustus.

Dengan demikian, total pelayanan yang diberikan Tim Kesehatan NTB hingga 25 Agustus mencapai 3.307 layanan.

Menurut Ahsanul Khalik yang akrab disapa AKA, tren tersebut menjadi indikator penting untuk membaca dinamika kebutuhan kesehatan masyarakat di lapangan.

“Puncaknya terjadi pada 22 Agustus. Setelah itu jumlah pelayanan mulai menurun, tetapi kami tidak boleh serta-merta menganggap situasi selesai. Pelayanan harus tetap berjalan, terutama untuk memastikan masyarakat yang masih membutuhkan bisa dijangkau dan perkembangan penyakit tetap terpantau,” ujarnya.

Dari ribuan layanan tersebut, keluhan kesehatan yang paling banyak ditangani adalah myalgia sebanyak 751 kasus, disusul dispepsia 634 kasus, ISPA 364 kasus, nyeri 268 kasus, dan hipertensi 259 kasus.

Tim juga menangani berbagai keluhan lain, seperti pusing, diare, luka atau vulnus, bronkitis, serta sejumlah kondisi medis lainnya.

Sepuluh jenis keluhan dan diagnosis terbanyak menyumbang sekitar 88 persen dari seluruh layanan. Artinya, sebagian besar beban pelayanan masih terkonsentrasi pada sejumlah masalah kesehatan utama yang muncul di masyarakat terdampak.

Namun, tim tidak hanya berfokus pada pengobatan. Pemantauan penyakit yang berpotensi menjadi KLB juga terus dilakukan.

ISPA menjadi penyakit potensial KLB yang paling dominan selama periode pemantauan.

Kasus ISPA tercatat 148 kasus pada 22 Agustus dan meningkat menjadi 156 kasus pada 23 Agustus. Setelah turun tajam menjadi 23 kasus pada 24 Agustus, kasus kembali tercatat sebanyak 37 kasus pada 25 Agustus.

Pola serupa juga terlihat pada penyakit lain.

Kasus diare tercatat 42 kasus pada 22 Agustus, turun menjadi 34 kasus pada 23 Agustus, kemudian meningkat menjadi 41 kasus pada 24 Agustus sebelum turun menjadi dua kasus pada 25 Agustus.

Sementara itu, pneumonia mencapai 30 kasus pada 24 Agustus dan masih tercatat 12 kasus pada 25 Agustus. Disentri juga menunjukkan kecenderungan meningkat pada akhir periode pengamatan.

Fluktuasi tersebut menjadi perhatian tim karena kondisi di pengungsian dapat meningkatkan risiko penularan penyakit, terutama ketika sanitasi, ketersediaan air bersih, kepadatan hunian, dan kondisi kelompok rentan menjadi persoalan.

“Bagi kami, angka penyakit itu bukan sekadar catatan harian. Ketika ada peningkatan, tim harus melihat apa penyebab dan faktor risikonya di lapangan. Karena itu, pelayanan medis harus berjalan bersama dengan surveilans, pemantauan air bersih, sanitasi, dan kondisi masyarakat di pengungsian,” kata AKA.

Selain pelayanan di pos kesehatan, Tim Kesehatan NTB juga melakukan pelayanan mobile untuk menjangkau warga yang berada di luar titik pelayanan utama.

Di wilayah pelayanan mobile sekitar Desa Satar Padut, pemetaan kelompok masyarakat menunjukkan terdapat 37 balita usia 0–5 tahun, tujuh anak dan remaja usia 6–17 tahun, serta 152 penduduk usia 18–59 tahun yang menjadi bagian dari sasaran pelayanan.

Sejak hari pertama respons hingga 25 Agustus, tim terus memperluas penanganan melalui penempatan tenaga kesehatan di pos-pos pelayanan, koordinasi dengan HEOC Provinsi serta Kabupaten/Kota, hingga penguatan sistem rujukan pasien.

Tim juga melakukan rujukan pasien dengan kasus obstetri ke Rumah Sakit Ruteng untuk mendapatkan penanganan lanjutan.

Di sisi lain, pelayanan kesehatan di sejumlah wilayah diperkuat melalui koordinasi dan integrasi dengan Tim Layanan Kesehatan Universitas Airlangga (UNAIR).

Sebagai pusat koordinasi sekaligus pelayanan, Tim Kesehatan NTB juga membentuk dan mengoperasikan Pos Induk Kesehatan di Puskesmas Dampek, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur.

Respons kemudian diperluas melalui pelayanan mobile di sejumlah lokasi serta distribusi logistik kesehatan dan obat-obatan ke fasilitas maupun pos pelayanan di wilayah terdampak.

AKA menegaskan, respons kesehatan tidak akan berhenti hanya karena angka kunjungan harian mulai menurun. Pergerakan tim akan terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

“Solidaritas kemanusiaan tidak cukup hanya hadir pada hari-hari pertama bencana. Yang lebih penting adalah memastikan respons terus mengikuti kebutuhan masyarakat. Karena itu, kita akan terus melihat perkembangan di lapangan, memperkuat koordinasi, dan memastikan masyarakat yang membutuhkan pelayanan tetap dapat dijangkau,” pungkasnya.(PB01)