MATARAM, PERSBIRU.COM – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) resmi menghadirkan Bale Kita, sebuah pusat promosi dan pemasaran yang dirancang menjadi rumah bersama bagi produk-produk autentik karya pelaku UMKM NTB.
Kehadiran Bale Kita menjadi langkah baru dalam memperkuat ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah melalui kurasi produk, penguatan kualitas, hingga perluasan akses pasar nasional dan internasional.
Peresmian Bale Kita dilakukan langsung oleh Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal didampingi Ketua Dekranasda NTB Hj. Sinta Agathia Iqbal di Gedung eks NTB Mall, pada Rabu (8/7/2026).
Acara tersebut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Wakil Gubernur NTB, Kepala Kejaksaan Tinggi NTB, Danrem 162/Wira Bhakti, perwakilan Polda NTB, Ketua Dekranasda Kota Mataram, pimpinan perangkat daerah, pelaku usaha, pelaku UMKM, hingga wisatawan mancanegara yang turut menyaksikan peluncuran pusat produk unggulan daerah itu.
Peluncuran Bale Kita menandai transformasi konsep NTB Mall menjadi ruang yang lebih inklusif, profesional, dan berorientasi pada pemberdayaan UMKM.
Tidak hanya berfungsi sebagai galeri produk, Bale Kita juga diproyeksikan menjadi pusat kurasi, pembinaan, peningkatan kapasitas pelaku usaha, sekaligus pintu masuk perluasan pasar bagi UMKM dari seluruh kabupaten dan kota di NTB.
Dalam sambutannya, Gubernur Iqbal mengapresiasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTB bersama Dekranasda NTB yang berhasil menghadirkan wajah baru pusat promosi produk lokal tersebut.
Menurutnya, perubahan menjadi Bale Kita bukan sekadar pergantian nama, melainkan sebuah transformasi menyeluruh terhadap tata kelola dan konsep pengembangan UMKM.
“Ada upaya perbaikan dan penyempurnaan dari konsep-konsep yang lama. Disempurnakan, diperbaiki, dibuat tata letak dan tata kelola yang jauh lebih baik,” ujar Gubernur Iqbal.
Gubernur Iqbal menegaskan, nilai utama Bale Kita terletak pada komitmennya menghadirkan produk-produk asli hasil karya para perajin NTB.
Seluruh produk yang dipasarkan dipastikan merupakan hasil kreativitas masyarakat lokal tanpa menghadirkan produk pabrikan, sehingga identitas budaya dan nilai kerajinan daerah tetap terjaga.
“Semua produknya autentik. Tidak ada produk pabrikan. Jadi semua kerajinan yang ditampilkan di sini langsung lahir dari tangan para perajin yang ada di NTB,” tegasnya.
Seluruh produk yang masuk ke Bale Kita juga wajib melalui proses kurasi sehingga kualitas, nilai artistik, keaslian, serta identitas budaya setiap karya tetap terjamin. Dengan konsep tersebut, Bale Kita diharapkan menjadi etalase resmi produk unggulan Nusa Tenggara Barat.
Tak hanya sebagai pusat belanja, Bale Kita juga diproyeksikan menjadi destinasi wisata budaya dan ruang edukasi. Gubernur Iqbal berharap setiap produk nantinya dilengkapi informasi mengenai asal-usul, filosofi, bahan baku, hingga proses pembuatannya agar memberikan pengalaman lebih bermakna bagi pengunjung.
Menurutnya, cerita di balik sebuah produk merupakan nilai tambah yang mampu meningkatkan apresiasi sekaligus daya saing produk di pasar.
Selain galeri fisik, Pemerintah Provinsi NTB juga tengah menyiapkan platform digital Bale Kita.
Melalui platform tersebut, seluruh produk UMKM yang telah lolos proses kurasi dapat dipasarkan secara lebih luas sehingga keterbatasan ruang pamer tidak lagi menjadi hambatan bagi ribuan pelaku usaha untuk menjangkau pasar nasional maupun internasional.
Ketua Dekranasda NTB, Hj. Sinta Agathia Iqbal, menjelaskan bahwa perubahan nama dari NTB Mall menjadi Bale Kita lahir dari keinginan menghadirkan identitas yang lebih dekat dengan budaya masyarakat NTB.
Gagasan tersebut juga muncul setelah adanya masukan saat kunjungan Ibu Wakil Presiden yang menilai istilah “mall” kurang merepresentasikan ruang bagi produk lokal.
“Bale berarti rumah. Kami ingin tempat ini benar-benar menjadi rumah bersama bagi seluruh perajin dan pelaku UMKM di NTB,” katanya.
Sinta menegaskan seluruh produk akan diseleksi melalui proses kurasi yang objektif berdasarkan kualitas, bukan karena kedekatan maupun selera.
Untuk memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh pelaku UMKM, Bale Kita menerapkan sistem rotasi produk secara berkala. Produk yang belum tampil di galeri fisik tetap akan dipasarkan melalui platform digital.
Menurutnya, Bale Kita juga akan terus diperkuat melalui pendampingan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), sertifikasi halal, Standar Nasional Indonesia (SNI), hingga perluasan jaringan pemasaran.
Dekranasda NTB bahkan telah memperoleh dukungan untuk menjalin kerja sama dengan InJourney dalam penyediaan paket produk UMKM di bandara, sekaligus melanjutkan kemitraan dengan jaringan ritel modern seperti Hypermart dan UNIQLO.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTB, HL Wiranata, mengatakan Bale Kita merupakan rumah bersama bagi pelaku UMKM dari Pulau Lombok hingga Pulau Sumbawa.
Saat ini Bale Kita telah mengakomodasi sekitar 250 UMKM, dan jumlah tersebut akan terus bertambah seiring pengembangan platform digital agar semakin banyak pelaku usaha memperoleh akses promosi dan pemasaran.
Ia menjelaskan, Bale Kita mengusung filosofi KITA, yakni Kreatif, Inovatif, Terbuka, dan Autentik, sebagai identitas baru pengembangan UMKM di Nusa Tenggara Barat.
Melalui Bale Kita, Pemprov NTB menegaskan komitmennya membangun ekosistem UMKM yang lebih kuat, profesional, dan berdaya saing.
Dengan mengedepankan produk autentik, sistem kurasi yang objektif, pendampingan usaha, serta pemasaran berbasis galeri fisik dan platform digital, Bale Kita diharapkan menjadi rumah besar bagi kreativitas para perajin sekaligus mengantarkan produk-produk unggulan NTB menembus pasar nasional hingga pasar global.(PB02)






