LOMBOK BARAT, PERSBIRU.COM – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak hingga tingkat desa.
Inovasi ini diharapkan mampu membantu kader posyandu mempercepat pendataan kesehatan, meningkatkan akurasi data, sekaligus mendukung deteksi dini berbagai risiko kesehatan pada ibu hamil dan anak.
Pemanfaatan AI tersebut menjadi bagian dari kolaborasi Indonesia–Australia melalui program riset Koneksi AI in Healthcare yang mulai diterapkan di Posyandu Cempaka 2, Dusun Tempit, Desa Mekarsari, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi NTB.
Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTB, Sinta Agathia Iqbal, mengatakan teknologi digital memiliki potensi besar untuk meringankan beban kader kesehatan yang selama ini menjadi garda terdepan dalam pelayanan masyarakat.
Menurutnya, proses pendataan kesehatan di lapangan masih membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Karena itu, kehadiran teknologi AI diharapkan dapat membuat proses pencatatan dan pengolahan data menjadi lebih cepat, mudah, dan akurat.
“Para kader selama ini mengemban tugas yang sangat besar dalam mengumpulkan dan menginput data kesehatan masyarakat. Melalui pemanfaatan teknologi AI, kami berharap proses pendataan menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan menghasilkan data yang lebih akurat,” ujar Sinta saat menghadiri pelaksanaan program tersebut, Kamis (11/6/2026).
Tak hanya membantu administrasi, Sinta menegaskan teknologi AI harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui peningkatan kualitas layanan kesehatan.
Salah satu harapan terbesar dari penerapan teknologi ini adalah kemampuan mendeteksi risiko kesehatan sejak dini, khususnya pada ibu hamil.
Dengan identifikasi yang lebih cepat, tenaga kesehatan dapat segera melakukan pendampingan dan intervensi sebelum muncul komplikasi yang lebih serius.
“Kami berharap teknologi ini dapat membantu mengidentifikasi ibu hamil yang berisiko sejak dini sehingga penanganan dan pendampingan dapat dilakukan lebih cepat dan lebih tepat,” katanya.
Sinta juga berharap hasil riset yang saat ini diterapkan di Desa Mekarsari dapat terus dikembangkan dan diperluas ke berbagai wilayah di NTB, termasuk Pulau Sumbawa, agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat.
Program kolaborasi tersebut dibuka oleh Wakil Bupati Lombok Barat, Nurul Adha, serta dihadiri perwakilan mitra Australia, tim Koneksi AI in Healthcare, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan kader posyandu.
Dalam kesempatan itu, Nurul Adha menegaskan bahwa transformasi digital di sektor kesehatan menjadi kebutuhan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Menurutnya, data kesehatan yang akurat merupakan fondasi utama dalam merumuskan kebijakan dan program kesehatan yang tepat sasaran.
“Digitalisasi kesehatan akan membantu kita memperoleh data yang lebih baik, terutama terkait kesehatan ibu hamil dan anak. Data yang akurat menjadi fondasi penting dalam merumuskan kebijakan dan intervensi yang tepat sasaran,” ujarnya.
Ia menambahkan, deteksi dini terhadap kehamilan berisiko merupakan langkah strategis untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak sekaligus mempercepat upaya pencegahan stunting.
Melalui sistem pendataan yang lebih baik, pemerintah dapat mengidentifikasi faktor risiko lebih awal, memberikan pendampingan yang sesuai, serta memastikan ibu dan anak mendapatkan layanan kesehatan yang dibutuhkan sejak dini.
Inisiatif ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan layanan kesehatan ibu dan anak.
Pemanfaatan teknologi AI dan digitalisasi layanan kesehatan diharapkan mampu mempercepat penurunan angka stunting, menekan kematian ibu dan bayi, serta menghasilkan data kesehatan yang lebih presisi sebagai dasar pengambilan kebijakan berbasis bukti.
Program Koneksi AI in Healthcare sendiri merupakan bagian dari kerja sama Indonesia dan Australia yang mendorong pemanfaatan inovasi teknologi untuk memperkuat layanan kesehatan primer.
Selain mengembangkan teknologi, program ini juga berfokus pada peningkatan kualitas data kesehatan agar proses pengambilan keputusan menjadi lebih efektif, presisi, dan terukur.
Bagi NTB, transformasi layanan kesehatan tidak hanya bergantung pada pembangunan fasilitas dan infrastruktur. Lebih dari itu, inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan layanan yang cepat, akurat, dan responsif.
Melalui kolaborasi internasional, dukungan pemerintah daerah, serta peran aktif kader kesehatan hingga tingkat desa, pemanfaatan AI di Posyandu diharapkan menjadi fondasi baru dalam mewujudkan generasi NTB yang lebih sehat, berkualitas, dan siap menghadapi tantangan masa depan.(PB02)






